17 Tahun Vakum, Seniman Nabire Angkat Bicara
“Saya sebagai seniman murni merasa sedih. Kurang lebih 17 tahun ini, khusus kami para seniman dan budayawan di Kabupaten Nabire ibarat anak ayam kehilangan induk,” ujar Samsor dengan nada prihatin.

NABIRE – Jeritan hati mendalam datang dari para pekerja seni di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah. Selama hampir dua dekade atau sekitar 17 tahun, ekosistem seni dan budaya di wilayah ini dinilai mati suri. Para seniman lokal—mulai dari pemusik, penari, pengukir, pelukis, hingga sastrawan—merasa berjalan sendiri tanpa arah dan pembinaan yang jelas akibat vakumnya Dewan Kesenian Kabupaten Nabire.
Keluhan ini disampaikan langsung oleh Plt. Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Nabire, Samsor Wataha, saat ditemui Papuapos Nabire di kediamannya pada Rabu (21/10/2026). Sebagai seorang seniman murni, Samsor mengaku sangat prihatin melihat kondisi rekan sejawatnya yang kesulitan menemukan wadah resmi untuk berkembang.
“Saya sebagai seniman murni merasa sedih. Kurang lebih 17 tahun ini, khusus kami para seniman dan budayawan di Kabupaten Nabire ibarat anak ayam kehilangan induk,” ujar Samsor dengan nada prihatin.
Menurut Samsor, absennya Dewan Kesenian yang aktif membuat para seniman lokal kebingungan mengalirkan kreativitas mereka. Selama jangka waktu yang sangat panjang tersebut, mereka harus berjuang keras secara mandiri demi mempertahankan bakat dan talenta yang dimiliki.
“Ketika kami mau berekspresi lewat seni musik, tari, ukir, lukis, hingga pahat, kami bingung harus ke mana. Dalam jangka waktu yang panjang ini, kami setengah mati sekali berusaha mencari cara bagaimana mengembangkan bakat lewat siapa, karena Dewan Kesenian Kabupaten Nabire vakum total,” jelasnya.
Bergerak dari keresahan yang sama, Samsor bersama sejumlah seniman dan budayawan Nabire akhirnya sepakat untuk berkumpul. Mereka berkomitmen penuh untuk menghidupkan kembali Dewan Kesenian Kabupaten Nabire.
“Kami kumpul dan berbincang-bincang untuk menghidupkan kembali lembaga ini. Tujuannya jelas, supaya kami bisa mengangkat jati diri, harga diri, dan budaya asli Kabupaten Nabire agar bisa setara dengan teman-teman seniman di daerah lain,” tegas Samsor.
Kondisi ini diperparah dengan tantangan zaman. Samsor menyoroti fenomena generasi muda saat ini yang mulai melupakan budaya setempat akibat maraknya tren Artificial Intelligence (AI/Kecerdasan Buatan), khususnya dalam seni tari.
Selain itu, ia membeberkan fakta miris yang terjadi pada Lomba Yosim Pancar (Yospan) musik live baru-baru ini. Akibat minimnya regenerasi, Kabupaten Nabire terpaksa mendatangkan banyak musisi dari luar daerah, seperti Kabupaten Yapen dan Waropen.
“Musisi yang tersisa di Nabire itu rata-rata angkatan zaman kami. Kemarin bahkan saya sendiri ditawari untuk bermain musik. Saya bilang tidak bisa karena posisi saya sebagai Dewan Juri. Ini contoh kecil betapa krisisnya pemain musik di Kabupaten Nabire saat ini,” ungkapnya.
Menutup perbincangan, Samsor menaruh harapan besar kepada pihak eksekutif agar memberikan perhatian serius terhadap nasib kebudayaan daerah. Ia mendesak Pemerintah Daerah, Dinas terkait, serta Dinas Pendidikan untuk segera mengambil langkah nyata.
Ke depan, sinergi dan kerja sama yang kuat dinilai sangat mendesak untuk melihat, merekrut dan membina kembali para seniman bertalenta yang ada di Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tengah, agar warisan budaya emas ini tidak punah ditelan zaman. (rob)
Bagikan artikel ini



