NABIRE — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nabire mencatat 309 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) sejak 2016 hingga 12 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, satu kasus kematian tercatat pada Juli 2026, sementara satu dugaan kematian lainnya pada Oktober 2026 masih dalam proses investigasi.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Nabire, Agustina Elvin, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan penyebab kematian terbaru tersebut karena masih harus melakukan penyelidikan dan memeriksa laporan medis.

Ia menjelaskan, apabila hasil investigasi mengonfirmasi kematian tersebut akibat DBD, kasus itu akan dilaporkan secara resmi kepada Kementerian Kesehatan. Di tengah ancaman penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti itu, Agustina mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan pengasapan atau fogging.

Menurutnya, upaya pencegahan yang paling mendasar justru harus dimulai dari lingkungan rumah melalui pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Meski edukasi telah dilakukan melalui Puskesmas, kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan menghilangkan tempat perkembangbiakan nyamuk dinilai masih perlu ditingkatkan.

Agustina menjelaskan, nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang biak pada genangan air bersih di sekitar rumah. Tempat yang sering luput dari perhatian antara lain bak mandi, tangki air, ember, wadah minum hewan, pot bunga hingga tempat penampungan air pada dispenser dan kulkas model lama.

“Tempat yang sering tidak diperhatikan masyarakat adalah wadah penampungan air di dispenser. Kalau dibiarkan beberapa hari, jentik nyamuk bisa berkembang biak di situ,” ujar Agustina saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (12/10/2026).

Ia menekankan, pemberantasan sarang nyamuk tidak cukup hanya dengan membuang air. Dinding wadah penampungan perlu disikat karena telur nyamuk dapat menempel di permukaannya. Selain itu, barang bekas seperti botol plastik, kaleng, dan ban yang berpotensi menampung air hujan perlu dibuang, ditutup atau disimpan dalam posisi terbalik agar tidak menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Karena itu, masyarakat diminta menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, serta mendaur ulang atau menyingkirkan barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Selain gerakan 3M Plus, Dinkes Nabire mendorong masyarakat melakukan langkah tambahan untuk mengurangi risiko penularan DBD. Upaya tersebut antara lain memelihara ikan pemakan jentik di kolam, menanam tanaman yang dikenal dapat membantu mengusir nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi, serta menggunakan kelambu jika diperlukan.

Masyarakat juga diimbau menggunakan losion antinyamuk sesuai usia, terutama untuk anak-anak yang beraktivitas di luar rumah. Pakaian yang digantung berhari-hari di dalam rumah pun sebaiknya dirapikan karena dapat menjadi tempat nyamuk beristirahat.

Menurut Agustina, langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara konsisten, bukan hanya ketika kasus DBD meningkat atau ada warga yang terjangkit penyakit tersebut.

Selain itu, Agustina juga menegaskan, fogging bukan solusi utama untuk memberantas DBD. Pengasapan hanya menyasar nyamuk dewasa, sedangkan telur dan jentik yang berada di tempat penampungan air dapat tetap bertahan. “Fogging itu bukan solusi utama. Yang harus kita lakukan adalah 3M Plus. Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan jentiknya tidak mati,” tegasnya.

Jika tempat perkembangbiakan tidak dibersihkan, populasi nyamuk berpotensi kembali meningkat. Penggunaan insektisida yang tidak sesuai prosedur juga dapat menimbulkan risiko kesehatan dan berkontribusi terhadap resistansi nyamuk.

Karena itu, pelaksanaan fogging harus mempertimbangkan indikasi epidemiologis dan hasil penyelidikan kasus, bukan semata-mata dilakukan setiap kali ada laporan warga terjangkit DBD.

Agustina berharap masyarakat menjadikan pemberantasan sarang nyamuk sebagai kebiasaan sehari-hari. Menurutnya, keterlibatan keluarga dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam memutus siklus perkembangbiakan nyamuk.

“Pencegahan harus dimulai dari rumah masing-masing. Jangan hanya menunggu fogging. Kalau tempat perkembangbiakan nyamuk tidak diberantas, nyamuk akan tetap ada,” pungkasnya. (amd)