Siapkan SDM Kesehatan Lokal, Pemprov Percepat Sosialisasi Pendidikan Tenaga Medis
Langkah ini dibarengi dengan persiapan sumber daya manusia (SDM) kesehatan lokal agar putra-putri Papua Tengah dapat mengambil peran strategis dalam pengelolaan fasilitas tersebut, Sabtu (08/11/2026).

NABIRE - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley terus memperkuat transformasi sektor kesehatan melalui pembangunan berbagai fasilitas pelayanan kesehatan rujukan modern. Langkah ini dibarengi dengan persiapan sumber daya manusia (SDM) kesehatan lokal agar putra-putri Papua Tengah dapat mengambil peran strategis dalam pengelolaan fasilitas tersebut, Sabtu (08/11/2026).
Melalui program prioritas visi dan misi gubernur dan wakil gubernur, Pemprov Papua Tengah tengah merealisasikan pembangunan sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya Rumah Sakit Provinsi Papua Tengah sebagai rumah sakit rujukan utama daerah, Klinik Bersalin, Klinik Bayi Tabung atau In Vitro Fertilization (IVF), serta Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) berstandar nasional.
Seluruh fasilitas pelayanan kesehatan tersebut diproyeksikan mulai beroperasi secara penuh pada rentang 2029 hingga 2030.
Untuk mendukung kesiapan operasional fasilitas tersebut, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah mulai mengakselerasi sosialisasi mengenai pilihan pendidikan dan penataan karier di bidang kesehatan kepada para pelajar di berbagai kabupaten.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah, Kristianus Tebai, mengatakan penyiapan tenaga kesehatan membutuhkan perencanaan jangka panjang, sehingga tidak dapat dilakukan secara mendadak menjelang pengoperasian rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya.
Menurutnya, pendidikan tenaga kesehatan pada jenjang Diploma Tiga (D3) membutuhkan waktu sekitar tiga tahun, sedangkan Diploma Empat (D4) atau Sarjana Terapan membutuhkan waktu empat tahun. Karena itu, sosialisasi harus dimulai sejak sekarang agar calon tenaga kesehatan memiliki waktu yang cukup untuk menempuh pendidikan.

“Tahun 2026 kami sudah melakukan sosialisasi ke beberapa sekolah di beberapa kabupaten. Kami berharap di tahun 2027 nanti sosialisasi tetap akan kami lancarkan secara masif. Tujuan utamanya agar para orang tua, keluarga, dan masyarakat luas bisa ikut membagikan informasi peluang kerja ini kepada adik-adik atau saudara-saudara kita yang memiliki keinginan untuk melanjutkan ke pendidikan sekolah kesehatan", ujar Kristianus Tebai di Nabire.
Ia menjelaskan, keterlibatan orang tua dan lingkungan masyarakat sangat penting dalam mengarahkan generasi muda memilih pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan sektor kesehatan di Papua Tengah.
"Dalam rangka menyukseskan Program Prioritas Visi Misi Gubernur Meki Nawipa dan Wakil Gubernur Deinas Geley, sosialisasi kita lakukan mulai dari sekarang. Jadi ketika fasilitas pelayanan RS Provinsi, Klinik Bersalin, Klinik Bayi Tabung, dan Labkesda diperkirakan beroperasi pada tahun 2029/2030 nanti, proses penyerapan dan pendayagunaan tenaga kesehatan putra-putri daerah dapat langsung kita berlakukan secara maksimal," tegasnya.
Kristianus menegaskan, keberadaan rumah sakit rujukan modern dan fasilitas kesehatan berbasis teknologi tinggi membutuhkan tenaga kesehatan dengan kompetensi khusus. Oleh sebab itu, para lulusan SMA dan SMK di Papua Tengah diharapkan tidak hanya berfokus pada jurusan keperawatan dan kebidanan, tetapi juga mempertimbangkan berbagai program pendidikan vokasi kesehatan lainnya.
Beberapa bidang pendidikan yang dinilai memiliki peluang dan kebutuhan besar antara lain Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM), yang berperan dalam pemeriksaan spesimen darah, kimia klinik, patologi, serta mendukung kebutuhan pemeriksaan laboratorium di Labkesda dan Klinik Bayi Tabung.
Selain itu, terdapat bidang radiologi melalui pendidikan radiografer atau Ahli Teknik Radiodiagnostik dan Radioterapi (ATRO), serta fisikawan medis yang mendukung pengoperasian peralatan seperti CT-Scan, MRI, dan Mammografi, termasuk aspek keselamatan radiasi.
Bidang Teknik Elektromedik (ATEM) juga menjadi salah satu kebutuhan penting untuk melakukan pengujian, kalibrasi, pemeliharaan, serta memastikan keamanan penggunaan peralatan medis seperti ventilator, mesin anestesi, inkubator, dan alat hemodialisis.
Tidak kalah penting, tenaga Rekam Medis dan Informasi Kesehatan (RMIK) dibutuhkan untuk mendukung pengelolaan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), pengodean penyakit, serta penerapan Rekam Medis Elektronik (RME).
Sementara itu, tenaga ahli gizi atau dietisien dan nutrisionis diperlukan untuk mendukung pelayanan nutrisi klinis pasien serta program tumbuh kembang anak.
Adapun bidang vokasi kesehatan lainnya yang juga perlu mendapat perhatian meliputi penata anestesi, sanitarian atau kesehatan lingkungan, fisioterapi, terapi wicara, terapi okupasi, teknisi kardiovaskuler, ortotik prostetik, hingga teknisi transfusi darah.
Menurut Kristianus, pemahaman mengenai beragam pilihan pendidikan tersebut perlu diperluas agar generasi muda Papua Tengah dapat mempersiapkan diri sesuai kebutuhan tenaga kerja di masing-masing fasilitas pelayanan kesehatan.
Di sisi lain, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah juga mengingatkan para pelajar dan orang tua agar cermat dalam memilih institusi pendidikan kesehatan.
Kristianus menegaskan, calon mahasiswa harus memastikan perguruan tinggi atau lembaga pendidikan yang dipilih memiliki akreditasi resmi dan memenuhi ketentuan peraturan yang berlaku.
Ia menjelaskan, tenaga kesehatan yang akan bekerja pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah harus memenuhi persyaratan kompetensi dan registrasi profesi sesuai ketentuan perundang-undangan, termasuk kepemilikan Surat Tanda Registrasi (STR) apabila dipersyaratkan untuk profesinya.

“Anak-anak sekolah wajib tahu masa depan mereka melalui informasi yang benar dan akurat. Pilih sekolah atau kampus yang unggul dan terakreditasi resmi (LAM-PTKes). Jangan pilih sekolah murahan yang hanya mencetak SDM tidak berkualitas,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengoperasian peralatan medis berteknologi tinggi, baik di Rumah Sakit Provinsi maupun Labkesda, berkaitan langsung dengan keselamatan pasien. Karena itu, tenaga yang direkrut harus memiliki pendidikan, keterampilan, dan kompetensi yang sesuai dengan bidang tugas masing-masing.
Melalui sosialisasi yang mulai diperkuat sejak 2026 dan direncanakan berlanjut secara masif pada 2027, Pemprov Papua Tengah berharap dapat membangun fondasi SDM kesehatan lokal secara terencana.
Dengan demikian, ketika berbagai fasilitas kesehatan rujukan mulai beroperasi pada 2029–2030, putra-putri Papua Tengah diharapkan telah siap mengisi kebutuhan tenaga profesional dan teknis kesehatan, sekaligus menjadi bagian penting dari peningkatan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat di delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah. (luk)
Bagikan artikel ini



