NABIRE - Pemerintah Kampung Bumi Raya SP1, Kabupaten Nabire, terus berupaya menjaga kemandirian pangan di wilayahnya meskipun menghadapi tantangan penurunan alokasi anggaran yang cukup signifikan pada tahun 2026 ini.

Kepala Kampung Bumi Raya SP1, Mursito, SE, menjelaskan penyesuaian anggaran ini terjadi akibat kebijakan efisiensi.

“Kalau dulu dianggarkan dari dana desa itu diambil 20 persen, tapi dengan efisiensi anggaran, sekarang dana desa turun. Kalau dulu kita masih menerima itu sekitar 900an juta, sekarang tinggal 300an juta rupiah,” ujarnya saat diwawancarai Papuapos Nabire di Hotel Mahavira, Jumat (9/10/2026).

Akibat penurunan dana tersebut, pihak kampung tidak lagi menggunakan patokan persentase khusus untuk program ketahanan pangan seperti tahun-tahun sebelumnya.

Sebagai gantinya, pemerintah kampung telah mengalokasikan dana sekitar 70 juta rupiah yang difokuskan khusus untuk penambahan modal usaha pada kios Sarana Produksi (Saprodi).

Mursito menambahkan, realisasi anggaran untuk program ketahanan pangan ini sengaja dijadwalkan pada penyaluran tahap kedua tahun ini.

“Tapi untuk ini, anggarannya keluar di tahap dua, karena dengan minimnya anggaran, jadi kita prioritaskan dulu yang sifatnya untuk masyarakat yang lebih prioritas,” jelas Mursito dengan ramah.

Menyoal kesiapan Saprodi, pihak kampung memfokuskan pengadaan barang pada kebutuhan para petani lahan basah yang mendominasi kawasan Bumi Raya SP1.

“Jadi, kita siapkan itu pupuk-pupuk, tapi bukan pupuk subsidi, melainkan pupuk cair yang dijual di kios-kios tani, kita siapkan itu sama obat-obatan khusus untuk petani,” tutup Mursito, seraya berharap program ini dapat segera diserap dan dirasakan manfaatnya oleh para petani padi setempat. (sam)