NABIRE — Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire terus mengoptimalkan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) sebagai salah satu upaya mempercepat penanganan balita yang berisiko mengalami stunting.

Program tersebut diarahkan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi anak, tetapi juga membantu mengatasi persoalan lingkungan dan kondisi keluarga yang turut memengaruhi tumbuh kembang anak.

Kepala Bidang Penyuluhan dan Penggerakan DPPKB Kabupaten Nabire, Marthen Toding, S.KM., M.Kes., mengatakan sasaran program Genting pada 2026 masih berfokus pada balita yang memiliki risiko stunting.

“Sejalan dengan program Kementerian, kriteria sasaran baru di tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun sebelumnya, di mana kita tetap berfokus pada penjaringan orang tua asuh dengan sasaran utamanya adalah balita yang berisiko mengalami stunting,” ujar Marthen saat ditemui Papuapos di ruang kerjanya, Selasa (8/9/2026).

Menurutnya, intervensi dalam program Genting diberikan dalam dua bentuk, yakni bantuan nutrisi dan non-nutrisi. Keduanya disesuaikan dengan kondisi serta tingkat kebutuhan masing-masing keluarga sasaran.

Bantuan nutrisi antara lain berupa beras, telur dan susu yang ditujukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi harian balita sehingga kondisi kesehatan dan pertumbuhannya dapat segera diperbaiki.

Sementara bantuan non-nutrisi diarahkan pada kebutuhan dasar keluarga, seperti perbaikan rumah tidak layak huni maupun penyediaan fasilitas sanitasi dan MCK bagi keluarga yang belum memiliki akses layak.

Namun, Marthen mengakui pelaksanaan bantuan non-nutrisi masih menghadapi kendala, terutama dalam proses mendapatkan orang tua asuh yang bersedia terlibat dalam program.

“Sebagian orang tua asuh terkadang menolak dengan berbagai alasan, sehingga program saat ini lebih difokuskan pada penyaluran bantuan nutrisi yang langsung menyentuh kebutuhan pemenuhan gizi harian balita,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menilai konsep Genting memiliki kekuatan tersendiri karena mendorong semangat gotong royong. Masyarakat yang memiliki kemampuan dapat berperan langsung membantu keluarga yang membutuhkan, khususnya anak-anak yang berisiko mengalami stunting.

Dalam skema tersebut, DPPKB berperan sebagai penghubung antara orang tua asuh atau donatur dengan keluarga sasaran. Bantuan juga dapat disesuaikan dengan kemampuan masing-masing orang tua asuh.

“Pihak DPPKB bertindak sebagai penghubung atau memperpanjang tangan antara donatur atau orang tua asuh dengan anak yang berisiko stunting. Sistemnya fleksibel. Misalnya, jika donatur mampu menyediakan telur, maka dicarikan orang tua asuh tambahan yang bisa melengkapi dengan susu agar gizi anak terpenuhi lengkap,” jelas Marthen.

Ia berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam program tersebut, sehingga kebutuhan anak-anak berisiko stunting dapat ditangani secara lebih cepat dan berkelanjutan.

Menurutnya, penanganan stunting membutuhkan kerja bersama, bukan hanya pemerintah. Keterlibatan keluarga, masyarakat, dunia usaha maupun para orang tua asuh menjadi bagian penting untuk memastikan anak-anak Nabire memperoleh asupan gizi dan lingkungan hidup yang lebih layak.

DPPKB Nabire pun terus mendorong agar program Genting tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangun kepedulian masyarakat terhadap masa depan dan kualitas generasi Nabire. (sam)